PERENCANAAN PROGRAM PENDIDIKAN NONFORMAL SEKOLAH

Abstrak :
Program adalah suatu kegiatan yang akan dilakukan pada masa yang akan datang, dan merupakan penjabaran dari rencana yang sudah terseleksi. Penyusunan suatu program selalu berdasarkan pada keakuratan data sehingga nantinya akan diperoleh alternatif yang paling tepat. Artinya potensi, kebutuhan dan sumberdaya manjadi prioritas dalam program kegiatan sehingga program dapat terlaksana secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

PENDAHULUAN.
Pendidikan Luar Sekolah (PLS) atau Pendidikan Nonformal (PNF) berfungsi sebagai pelengkap (complement), pengganti (substitute) dan penambah (supplement) pendidikan sekolah (UU No.20 / 2003 tentang Sisdiknas).
Program PNF diarahkan untuk memberi layanan pendidikan kepada warga masyarakat yang belum sekolah, tidak pernah sekolah (buta aksara) dan warga masyarakat yang membutuhkan layanan pendidikan melalui satuan-satuan PNF.
Berbagai program PNF yang dikembangkan (Renstra Dit. PTK-PNF, 2006) terdiri :

  1. Pendidikan Kesetaran diarahkan pada anak usia Wajar Dikdas sembilan tahun.
  2. Pendidikan Keaksaraan diarahkan pada pendidikan keaksaraan fungsional ( penurunan buta aksara usia 15 tahun keatas pada tahun 2009).
  3. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yaitu agar anak dapat berkembang sesuai tingkat usianya dan berdampak pada kesiapan memasuki sekolah.
  4. Peningkatan pembinaan kursus dan pelatihan untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat.
  5. Pendidikan kecakapan hidup yang dapat diintegrasikan dalam berbagai program PNF sebagai upaya kemampuan untuk hidup mandiri.
  6. Peningkatan Budaya Baca Masyarakat sebaga upaya mmelihara keaksaraan peserta didik melalui Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
  7. Memperkuat Unit Pelaksana Teknis Pusat dan Daerah sebagai tempat pengembangan model program PNF.

Untuk memberi layanan PNF tersebut diperlukan dukungan pendidik dan tenaga kependidikan yang dalam hal ini Pamong Belajar dan Penilik yang berstatus sebagai pegawai negeri (PNS). Disamping itu pendidik dan tenaga kependidikan yang berstatus bukan PNS adalah Tutor, Fasilitator Desa Binaan Intensif, Tenaga Lapangan Dikmas (TLD), Nara Sumber Teknis, Pamong PAUD.

PERENCANAAN PROGRAM PLS

  1. Pengertian Perencanaan Program PLS
    Pada konteks ini perlu dirumuskan secara jelas pengertian Rencana dan Program. Program merupakan penjabaran lebih lanjut dari rencana yang sudah terseleksi. Karena itu rencana masih bersifat makro sedangkan program sudah lebih spesifik, mengandung sejumlah kegiatan dan sasaran yang pasti.
    Perencanaan dapat diartikan perkiraan masa depan yang disusun berdasar data yang tersedia atau suatu penentuan urutan tindakan, perkiraan biaya serta penggunaan waktu yang didasarkan atas data dengan memperhatikan prioritas, efisiensi untuk mencapai tujuan.
  2. Fungsi Perencanaan Program PLS
    • Sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan.
    • Sebagai alat pengendali dalam melaksanakan kegiatan
    • Sebagai tolok ukur kegiatan evaluasi yang dilaksanakan secara periodik.
    • Sebagai materi yang akan dinilai dalam evaluasi program.
    • Untuk mengetahui unsur penunjang dan penghambat pelaksanaan program.
    • Dapat merumuskan kriteria keberhasilan pelaksanaan program.
  3. Dimensi-Dimensi yang Perlu dipertimbangkan dalam perencanaan.
    • Biaya.
      Betapa pentingnya biaya dalam perencanaan pendidikan, namun untuk pembangunan pendidikan jumlah biaya yang tersedia, bukanlah satu-satunya jaminan keberhasilan. Yang perlu mendapat perhatian adalah penggunaan biaya yangvtepat sasaran.
    • Lamanya Program.
      Penggunaan waktu yang digunakan sangat terkait dengan biaya dan efektifitas suatu program, lamanya suatu program, selain ditentukan oleh ruang lingkup program, juga efektivitas sistempenyampaian. Misalnya, suatu program dirancang waktu pelaksanaannya 6 bulan, tetapi sistem penyampaiannya tidak efektif sehingga program diselesaikan 8 bulan.
    • Kebutuhan Peserta
      Suatu program akan lebih berhasil apabila program itu didasarkan pada kebutuhan. Mereka akan tertarik dan termotivasi utnuk mempelajari secara sungguh-sungguh jika bersesuaian dengan minat dan kebutuhannya.
    • Aspirasi Para Peserta
      Aspirasi para peserta berhubungan erat dengan kebutuhan. Perubahan aspirasi membawa perubahan kebutuhan. Aspirasi sifatnya dinamis, berubah-ubah sejalan perkembangan atau kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
    • Hubungan dengan Pekerjaan
      Masalah pengangguran adalah masalah yang sangat rumit dihadapi oleh hampir seluruh dunia. Bagaimana menyiapkan lapangan kerja bagi penduduk yang berada pada usia kerja. PLS sebagai pendidikan yang berorientasi pada peningkatan taraf hidup dengan memberi pengetahuan praktis dan keterampilan fungsional, seyogianya diarahkan pada pembinaan kepekaan melihat SDA serta lingkungan hidup sekitar sebagai obyek yang dapat digarap sebagai sumber penghasilan. Dengan kepekaan ini memungkinkan warga masyarakat dapat memanfaatkan kondisi lingkungan untuk dapat berusaha sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian masalah pengangguran dapt dikurangi.

LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN PROGRAM PLS
PLS memiliki karakteristik yang berbeda dengan pendidikan persekolahan . Kalau pendidikan persekolahan memiliki keterbatasan waktu, ruang, fleksibilitas dan isi, maka PLS dirancang dari kebutuhan masyarakat dan berlangsung ditengah-tengah masyarakat tanpa membatasi usia dan jenis kelamin. Karena berangkat dari kebutuhan masyarakat yang selalu berubah dan berlangsung dalam masyarakat yang memiliki keragaman karakteristik, maka isi programnya selalu mengarah pada fleksibilitas. Artinya isi program disesuaikan dengan kondisi kebutuhan masyarakat yang memerlukannya.
Dalam rangka merencanakan program-program PLS, beberapa langkah yang harus ditempuh adalah sebagai berikut :

  1. Melakukan Studi Kelayakan.
    Studi kelayakan ini dimaksudkan untuk melihat kondisi daerah yang akan dijadikan sebagai lokasi sasaran. Aspek yang perlu mendapat perhatian antara lain :

    • Tingkat penghidupan masyarakat
    • Sarana pendidikan yang ada.
    • Sumber mata pencaharian penduduk
    • Potensi alam dan lingkungannya
    • Kesehatan lingkungan (gizi, kondisi rumah dll.)
    • Tata cara hidup bersama, adat istiadat, kebiasaan dll.
    • Sarana peribadatan dan kegiatan-kegiatan keagamaan.
    • Sifat khas masyarakat yang menonjol.
  2. Analisis Studi Kelayakan
    Hasil analisis studi kelayakan ini, memberi gambaran situasi atau keadaan lokasi menurut aspek-aspek yang diteliti. Selanjutnay dapat disusun alternatif-alternatif sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
  3. Menetapkan Daerah Pengembangan
    Hasil analisis dan alternatif-alternatif yang tersedia, dapatlah ditentukan lokasi sasaran yang dapat dijadikan sebagai lokasi binaan.
  4. Merumuskan Tujuan.
    Setelah menetapkan lokasi sasaran, maka perlu merumuskan tujuan yang ingin dicapai dalam pengembangan PLS.
  5. Menentukan populasi sasaran
    Deskripsi yang tepat mengenai populasi sasaran sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu perencanaan.
    Ada 3 hal yang perlu mendapat perhatian antara lain :

    • Motivasi, kecenderungan dan minat peserta.
    • Kegairahan dan kemampuan peserta
    • Harapan-harapan dan cita-cita.
  6. Mengidentifikasi Kebutuhan Belajar
    Kebutuhan belajar sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar. Yang berkaitan dengan hal ini:

    • Apa yang ingin diketahui / dipelajari
    • Sumber-sumber belajar yang dapat mendukung kebutuhan belajar masyarakat.
    • Kebutuhan belajar yang belum terungkapkan.
    • Mempertemukan kebutuhan belajar dan sumber belajar.
  7. Merencanakan Penyampaian yang Tepat
    Ada beberapa bentuk sistem penyampaian yang dapat digunakan dalam pengembangan program PLS :

    • Siaran pendidikan melalui radio dan televisi
    • Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat
    • Sistem Belajar Jarakn Jauh
    • Buku-buku Paket dan rekaman penjelasannya.
    • Ceramah-ceramah regiuler
    • Taman Bacaan Masyarakat
    • Pameraan-pameran Pendidikan.
  8. Menetapkan Tugas-Tugas Pengembangan dan Pelaksanaan Kegiatan.
    Melalui diskusi bersama-sama dengan para peserta dan tokoh-tokoh masyarakat, maka dapat ditetapkan :

    • Tempat dan waktu belajar
    • Bahan belajar dan alat-alatnya
    • Cara penyajian bahan
    • Jumlah peserta
    • Nara sumber dll.
  9. Melatih Calon-Calon Pelatih
    Untuk keberlanjutan program PLS ini, perlu dilakukan pelatihan bagi tenaga setempat dalam beberapa jenis pengetahuan dan keterampilan yang memang diperlukan. Dalam hal ini perlu diidentifikasi tenaga-tenaga yang dapat dilayih sebagai calon pelatih.
  10. Pelaksanaan Kegiatan.
    Apa yang telah direncanakan, kini saatnya dilaksanakan. Mungkin saja dapat terjadi perubahan-perubahan yanag diperlukan bilamana kenyataan lapangan ada sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan.
  11. Evaluasi Program.
    Evaluasi yang dimaksudkan disini adalah kegiatan untuk menilai pencapaian tujuan program sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Disamping itu pula dengan evaluasi dapat dilakukan untuk penyempurnaan program setelah mengetahui apa yang harus disempurnakan dan bagaimana menyempurnakannya.

PENUTUP
Pendidikan Luar Sekolah dirancang dari kebutuhan masyarakat dan berlangsung ditengah-tengah masyarakat tanpa membatasi usia dan jenis kelamin. Karena berangkat dari kebutuhan masyarakat yang selalu berubah dan berlangsung dalam masyarakat yang memiliki keragaman karakteristik, maka isi programnya selalu mengarah pada fleksibilitas. Artinya isi program disesuaikan dengan kondisi kebutuhan masyarakat yang memerlukannya. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran pada pendidikan luar sekolah harus direncanakan sebaik mungkin sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung tanpa mempengaruhi kegiatan masyarakat. Hal ini dapat erjadi dengan adanya kesepakatan antara pengelola, tutor, dan peserta didik trutama dalam menentukan jadwal pembelajaran dan muatan lokal yang harus di ajarkan..

DAFTAR PUSTAKA

Dit.PTK-PNF. 2006. Rencana Strategis Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal 2006-2010. Departemen Pendidikan Nasional.

Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Perencanaan Program Pembelajaran. Direktorat Pendidikan Masyarakat.

Rahman, Nurdin. 1989. Instruksional Material Perencanaan Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sahabuddin. 1985. Pendidikan Nonformal, Suatu Pengentar Ke dalam Pemahaman Konsep dan Prinsip-Prinsip Pengembangan. IKIP Ujungpandang.
Sudjana, HD. 1991. Pendidikan Luar Sekolah, Wawasan sejarah Perkembangan Falsafah dan Teori & Pendukung Azas. Bandung: Nusantara Pers.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang SistemPendidikan Nasional. Jakarta: Citra Umbara.